Geo atau helio - sentris?
24 May 2007 by Hanief Trihantoro
Saya menemukan sebuah artikel yang membuktikan bahwa Bumi itu bergerak, - dalam hal ini Bumi tidak diputari oleh planet lain - yaitu kenampakan planet Saturnus di langit malam bumi dari tahun 2005/08 sampai 2008/09. Silakan lihat citra dari APOD di halaman Three Years of Saturn.Gerak retrogade planet ini membuktikan bahwa Bumi tidak diam dan tidak dikelilingi oleh saturnus. Gerak retrogade itu sendiri adalah perubahan posisi planet di langit relatif terhadap bintang latar belakang dengan lintasan yang menuju ke arah berlawanan.
Gerak retrogade itu terjadi karena Bumi mendahului Saturnus ketika bergerak dalam orbitnya masing-masing. Bumi yang lebih dekat dengan matahari mengorbit lebih cepat dari pada Saturnus yang berada jauh dari matahari. Dalam citra APOD itu, Saturnus “bergerak” dari kiri gambar menuju kanan, kemudian di satu titik bergerak ke arah kanan gambar, dan kembali ke kiri. Hal ini terjadi sebanyak tiga kali. Apakah hal ini mempengaruhi teori geosentris dan heliosentris?Dahulu, teori geosentris menyebutkan bahwa semua objek langit mengitari bumi. Dengan adanya gerak retrogade ini teori geosentris menjadi semakin lemah karena dari planet Mars hingga Neptunus menunjukkan hal yang sama. Sedangkan sebaliknya terjadi pada teori heliosentris, karena gerak retrogade menunjukkan bahwa bumi bergerak memutari matahari (mengorbit).
Namun tetap saja, kedua teori ini tidak bisa saling meruntuhkan. Untuk pertimbangan lain tentang geo vs heliosentris, coba lihat artikel dari langitselatan.com

Sejarah sains menunjukkan bahwa kita tidak pernah bisa menemukan kebenaran mutlak, kita hanya bisa mendekatinya (kadang bisa salah, kadang bisa benar dalam menginterpretasinya). Karena itu sebuah teori dalam sains tidak pernah runtuh. Ini juga yang membuat sains membedakan dirinya dari dogma, bahwa sains itu harus dinamis.
Teori heliosentris saat ini tengah menjulang tinggi, sementara teori geosentris cenderung statis dan tidak terurus. Tetapi bukan berarti teori geosentris runtuh. Geosentris hanya tampak lebih kerdil karena data-data yang kita peroleh hingga saat ini lebih condong ke teori heliosentris. Bagaimana kalau ilmu pengetahuan abad “perang bintang” menemukan bukti yang mendukung teori geosentris, coba?
20 abad lamanya kita menganut teori geosentris, tetapi bukan berarti pada selang masa tersebut teori heliosentris runtuh, teori heliosentris hanya kurang diminati karena kurang didukungan oleh data.
Coba baca-baca tentang filsafat sains deh..
oh, begitu yach, sepertinya masalah pembuktian teori ini tidak secara otomatis meruntuhkan teori yang berlawanan ya? berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya. jadi penasaran, sampai kapan teori [yang manapun] benar-benar bisa terbukti dan meruntuhkan teori lainnya … atau tidak akan?
menyebut tentang filasafat sains, saya merasa belum banyak mempelajarinya, jadi masih asing. saya cari dulu … . ada rekomendasi bacaan mungkin?
trima kasih sesudah dan sebelumnya…
tampaknya bung anton ini aktif sekali di komentar weblog ini
. mohon bimbingannya…
Ah.. sebal aku Pin! Kemaren dah kasih komen, eh, ga muncul. Ya udah, tak ulangi..
Menjawab pertanyaan:
“sampai kapan teori [yang manapun] benar-benar bisa terbukti dan meruntuhkan teori lainnya … atau tidak akan?”
Maka jawabannya adalah tidak akan pernah bisa sains itu mengklaim sesuatu sebagai kebenaran mutlak. Soalnya itu bukan otoritas sains. Jadi, “susah” mau menemukan kebenaran mutlak lewat sains.. Soalnya segala yang ada dalam sains bersifat sementara, mungkin menunggu waktu untuk “digugurkan”.
Hmm.. coba baca pemikiran Popper, Godel, Whitehead. Dan bandingkan dengan Positivisme abad ke-19 (hingga abad ke-20).
Kenapa sering komentar? Yah namanya juga “blogwalking”.. kumaha..
Ini ngomongin planet atau filsafat?