Sistem Klasifikasi Galaksi
10 July 2007 by Hanief Trihantoro
Galaksi adalah bentuk pengelompokan bintang terbesar di alam semesta. Namun keberadaan bintang-bintang sebagai penyusun sebuah galaksi tidak diketahui sampai tahun 1920an. Sebelumnya, galaksi yang diamati menyerupai awan itu disebut nebulae, karena pengamatan pada saat itu tidak dapat memberikan resolusi yang cukup untuk memisahkan bintang-bintang penyusun galaksi. Dengan adanya kemajuan teknologi teleskop dan fotografi, bintang-bintang dalam sebuah galaksi mulai dapat diamati.Salah seorang pengamat galaksi adalah Hubble, yang dapat mengidentifikasi bintang-bintang variabel yang terdapat di galaksi Andromeda (M31).
Bintang-bintang tersebut ternyata bersifat sama dengan Cepheid yang ditemukan dalam galaksi Bima Sakti. Kemudian dari hubungan periode - luminositas, Hubble mendapatkan bahwa jarak Andromeda dari Bima Sakti adalah tidak kurang dari 300 kpc, yang berarti bahwa Andromeda berada di luar Galaksi Bima Sakti yang berukuran 50 kpc. Hal ini menjadi penting karena sebelumnya semua nebulae diperkirakan sebagai bagian dari Bima Sakti. Sekarang telah diketahui bahwa jarak Andromeda adalah sekitar 800 kpc.
Terdapat banyak bentuk galaksi di alam semesta ini. Untuk memudahkan dalam mengenali dan membedakan jenis dan bentuk suatu galaksi dibandingkan galaksi lainnya, diperlukan sistem identifikasi yang dapat dipakai di seluruh dunia. Pada tahun 1936, dalam buku The Realm of Nebulae, Hubble membuat pengelompokan galaksi dengan sistem yang lebih dikenal sebagai diagram garpu tala (tuning fork diagram). Sistem ini adalah yang pertama dibuat dan yang paling umum dipakai hingga saat ini. Dalam penggolongan ini, secara umum terdapat empat kelas galaksi, yaitu galaksi elips, lenticular, spiral, dan irregular untuk galaksi yang memiliki bentuk tidak beraturan.
Galaksi elips memiliki bentuk bundar/elips dan tidak terlihat memiliki piringan pada strukturnya. Menurut Hubble, galaksi elips ini dibagi dalam subkelas berdasarkan bentuknya. Penamaannya menggunakan kode En, dengan E berarti elips, sedangkan n menunjukkan perbandingan antara sumbu mayor (a) dan minor (b) galaksi dengan rumusan n = 10 [1 - (b/a)]. Artinya, galaksi elips yang terlihat bundar dinamakan E0, sedangkan galaksi elips yang sumbu mayornya sebesar dua kali sumbu minornya dinamakan E5, dan seterusnya semakin pipih hingga E7.
Galaksi lenticular adalah galaksi berbentuk piringan yang merupakan peralihan antara elips dan spiral. Galaksi ini diberi kode S0. Galaksi lenticular ini memiliki bagian inti yang elips dan memperlihatkan adanya struktur piringan, namun pada bagian piringannya tidak terdapat lengan spiral.
Kelas galaksi berikutnya adalah galaksi spiral, yaitu galaksi yang berbentuk piringan dan mempunyai struktur lengan spiral. Kode penamaannya adalah S. Galaksi kelas lenticular dan spiral ini terkadang memiliki struktur bar pada piringannya. Untuk itu Hubble memberikan tambahan kode B pada penamaan masing-masing kelas galaksi yang memiliki bar: SB0 untuk galaksi lenticular dan SB untuk galaksi spiral.
Galaksi spiral normal (S) dan dengan bar (SB), terbagi lagi dalam subkelas a, b, dan c, yang dibedakan menurut dua hal berikut: (1) perbandingan kecerlangan antara komponen bulge dan piringan; dan (2) seberapa dekat jarak antar lengan spiral. Galaksi kelas Sa memiliki bulge lebih besar dan lengan spiral yang lebih rapat jika dibandingkan dengan galaksi kelas Sb dan Sc. Hal yang sama juga berlaku untuk galaksi spiral dengan bar (SB). Penamaan dalam subkelas ini sebenarnya tidak dapat dipisahkan secara tegas. Sehingga, sebuah galaksi dapat termasuk dalam kelas Sab, atau Sbc, dan seterusnya. Lalu bagaimana dengan Galaksi kita, Galaksi Bima Sakti? Dalam penggolongan Hubble ini, Galaksi Bima Sakti ternyata tergolong kelas SBbc.
Untuk melihat-lihat gambar, bisa dicari di Google, atau coba yang ini atau dari wikipedia.

wuuiiihhh hebat euy pak hanief, boleh ikut menulis beberapa huruf pak?
klasifikasi galaksi yang biasa dilakukan pada awal penggunaannnya sekarang mengalami kesulitan untuk diaplikasikan ke alam semesta yang lebih dini (z lebih besar dari 2). Mulai dari efek peredupan kecerlangan , efek penurunan diameter sudutnya, efek teknologi untuk pendeteksian dll. Contohnya pada citra yang dalam dari banyak proyek (HUDF, GOODS, COSMOS dll.) banyak citra galaksi yang dikelompokkan ke obyek dengan nama “chain, clump, linier dll.”
Sebagai gambaran awal, kita bisa mencoba mengaplikasikan kemampuan klasifikasi secara visual pada website ini http://www.galaxyzoo.org, tetapi rentang redshiftnya tidak sampai redshift yang tinggi sekali. untuk jumlah galaksinya, dijamin nggak akan habis-habis deh (jutaan). Saya sudah mendaftar dan nantinya kontribusi kita akan digunakan oleh mereka
Terima kasih,
dading
wuihhh… sama euy, pak dading juga hebat.
terima kasih buat tambahan dan juga link-nya. menarik sekali.
oya, blog pak dading saya taut dari sini ya…
Ini pertama kali qoe kesini maksudke buka situs niy. Ni situs oke banget,soalnya isinya bisa di copy paste-in semua. Jadi PR qoe jadi siap deuh…… He.he.heeeeeeeeee! THANKS YACHHHHHHHHHHH
Untk ke2 kaliny q terkesan. . Hbat bnget. .
Klo boleh, q mau tnya nich soal lubang hitam (black hole). Bsa uraiin tentang black hole g?
apa mesin waktu itu bisa dibuat?
Waah..,,,
puazz bnget gue nyalin smua jd pr gue cpat slesai d3ch,,,
ni web mang cooll.?
Abbiiizzz….,
makasih atas ilmunya semoga pak hanief mendapatkan amal jariyah yg tiada habisnya ^_^
Artikel di blog ini sangat menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com
http://astronomi.infogue.com/sistem_klasifikasi_galaksi